Peluncuran Hari Al Qur'an di Unisma

Mahasiswa Ganteng ...

Unisma

Mahasiswa Cantik............

Bersama Dosen

Eksis...

Bersama Dosen

Narsis...

Kuliah Umum...

Mari bergabung.. pintu kami terbuka lebar untuk Anda

Senin, 07 Maret 2016

ISLAM PADA MASA KERAJAAN MAJAPAHIT

ISLAM PADA MASA KERAJAAN MAJAPAHIT

1.      Pendahuluan
Berbeda dengan wilayah lain, kawasan Asia Tenggara yang di masa lalu dikenal dengan sebutan Nusantara memiliki pola dakwah yang khas. Sejak di tanah kelahirannya hingga di belahan Afrika dan Eropa dakwah Islam dilancarkan lewat pola kekuasaan. Dakwah disebarkan bersamaan dengan penaklukan wilayah, meskipun prinsip kebebasan berkeyakinan tetap menjadi dasar.
Sementara di Nusantara, dakwah disampaikan lewat pola dan relasi yang ‘manusiawi’, yaitu lewat pendekatan kebudayaan. Cara-cara simpatik perlu dilakukan agar dakwah dan visi Islam di kawasan ini dapat diterima masyarakat. Pendekatan ini dilakukan untuk meminimalisir benturan yang bakal terjadi. Apalagi pada kisaran abad 15 wilayah Nusantara dikenal sebagai wilayah ‘beradab dan berbudaya’ dengan kerajaan terkuat yang setara dengan kerajaan di Tiongkok, karenanya aksi kekerasan atau pemaksaan kehendak pasti akan kontra produktif.
Di belahan bumi Nusantara Islam memilih untuk tidak mengambil jalan berseberangan dengan penguasa. Salah satu pola kebudayaan penyebaran Islam yang digunakan adalah lewat pendekatan perkawinan. Kawin-mawin terbukti sanggup mengamankan posisi Islam dan dakwah. Dengan menjalin kekerabatan antara bangsawan setempat, maka posisi Islam tidak akan ‘diganggu’. Dakwah pun tidak hanya berkutat di kalangan ‘Sudra’ tapi menembus kalangan ‘Ksatria’.
Di kalangan rakyat biasa penyebaran Islam juga tidak pernah ditampilkan lewat cara-cara arogan dan kekerasan. Islam menyatu dengan kebudayaan dan tradisi masyarakat yang sudah berjalan berabad-abad. Kearifan lokal diadopsi menjadi kearifan Islam. Nilai-nilai keislaman disampaikan lewat cerita dan tradisi yang sudah diyakini oleh masyarakat seperti wayang dan cerita rakyat.
Inilah pilihan dakwah para penyebar Islam yang semestinya menjadi tuntunan bagi umat Islam generasi setelahnya. Nampaknya wajah Islam di masa lalu terlihat lebih sejuk dibanding wajah Islam kini. Semoga kearifan mereka bisa kita pahami.
Aspek damai lainnya dapat dilihat saat Raden Fatah (Sayyid Hasan) meminta izin Sunan Ampel selalu guru dan mertuanya untuk menyerang kerajaan Majapahit. Sunan Ampel tidak mengizinkan peperangan itu. Sebab Sunan Ampel adalah keponakan Raja Majapahit dan Raden Fatah adalah anak kandung Raja Majapahit. Segala hal perbedaan yang ada perlu diselesaikan secara kekeluargaan, tidak hanya dengan cara perang dan pertumpahan darah.
Atas uraian diatas,  paper ini akan membahas tentang “Islam di Kerajaan Majapahit”. Islam yang disampaikan dengan jalur damai, bukan dengan jalur penaklukan berbasis peperangan.
2.      Masuknya Islam di Majapahit
Majapahit adalah sebuah Kerajaan besar. Sebuah Emperor. Yang wilayahnya membentang dari ujung utara pulau Sumatera, sampai Papua. Bahkan, Malaka yang sekarang dikenal dengan nama Malaysia, termasuk wilayah kerajaan Majapahit. Majapahit berdiri pada tahun 1293 Masehi. Didirikan oleh Raden Wijaya yang lantas setelah dikukuhkan sebagai Raja beliau bergelar Shrii Kertarajasha Jayawardhana. Eksistensi Majapahit sangat disegani diseluruh dunia. Diwilayah Asia, hanya Majapahit yang ditakuti oleh Kekaisaran Tiongkok China. Di Asia ini, pada abad XIII, hanya ada dua Kerajaan besar, Tiongkok dan Majapahit.
Lambang Negara Majapahit adalah Surya. Benderanya berwarna Merah dan Putih. Melambangkan darah putih dari ayah dan darah merah dari ibu. Lambang nasionalisme sejati. Lambang kecintaan pada bhumi pertiwi. Karma Bhumi. Dan pada jamannya, bangsa kita pernah menjadi Negara adikuasa, superpower, layaknya Amerika dan Inggris sekarang. Pusat pemerintahan ada di Trowulan, sekarang didaerah Mojokerto, Jawa Timur. Pelabuhan internasional-nya waktu itu adalah Gresik.
Agama resmi Negara adalah Hindhu aliran Shiwa dan Buddha. Dua agama besar ini dikukuhkan sebagai agama resmi Negara. Sehingga kemudian muncul istilah agama Shiva Buddha. Nama Majapahit sendiri diambil dari nama pohon kesayangan Deva Shiva, Avatara Brahman, yaitu pohon Bilva atau Vilva. Di Jawa pohon ini terkenal dengan nama pohon Maja, dan rasanya memang pahit. Maja yang pahit ini adalah pohon suci bagi penganut agama Shiva, dan nama dari pohon suci ini dijadikan nama kebesaran dari sebuah Emperor di Jawa. Dalam bahasa sanskerta, Majapahit juga dikenal dengan nama Vilvatikta (Wilwatikta. Vilva: Pohon Maja, Tikta : Pahit ). Sehingga, selain Majapahit ( baca : Mojopait) orang Jawa juga mengenal Kerajaan besar ini dengan nama Wilwatikta (Wilwotikto).
Kebesaran Majapahit mencapai puncaknya pada jaman pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani (1328-1350 M). Dan mencapai jaman keemasan pada masa pemerintahan Prabhu Hayam Wuruk (1350-1389 M) dengan Mahapatih Gajah Mada-nya yang kesohor dipelosok Nusantara itu. Pada masa itu kemakmuran benar-benar dirasakan seluruh rakyat Nusantara. Benar-benar jaman yang gilang gemilang!
Islam mendapatkan suatu system politik dan struktur kekuasaan yang telah lama mapan di pusat keraton Majapahit. Sebenarnya komunitas pedagang muslim telah mendapat tempat dalam pusat-pusat politik pada abad ke 11 M. Komunitas muslim itu semakin membesar pada abad ke 14 , namun perkembangannya tidak semudah bagaimana yang dialami Islam di Samudra Pasai (Wahib Wahab, 2008:47).. Disini Islam berhadapan dengan resistensi politik dan budaya yang cukup kuat. Kuatnya resistensi itulah diantara yang menjadi faktor penentu lambatnya proses Islamisasi jawa dibandingkan dengan wilayah lain di nusantara.
Badri Yatim (1998:197) menyebutkan bahwa proses Islamisasi di jawa sudah berlangsung sejak abad 11 M, meskipun belum meluas, terbukti dengan ditemukannya batu nisan kubur Fatimah binti maimun di Leran, Gresik, yang berangka tahun 475 H (1082 M). Penemuan makam tersebut merupakan bukti yang konkrit bagi kedatangan Islam di jawa. Kalau sebelumnya abad ke 13 bukti-bukti telah terdapatnya kaum muslimin di jawa masih sangat langka, maka sejak akhir abad ke 13 hingga abad-abad berikutnya, terutama ketika Majapahit mencapai puncak kebesarannya, bukti-bukti telah berlangsungnya proses Islamisasi dapat diketahui lebih banyak, seperti penemuan beberapa puluh nisan kubur di Troloyo, Trowulan dan Gresik.
Melihat makam-makam muslim yang terdapat di situs-situs Majapahit, dapat diketahui bahwa Islam sudah hadir di ibu kota Majapahit sejak kerajaan itu mencapai puncaknya. Meskipun demikian lazim dianggap bahwa Islam di jawa pada mulanya menyebar selama periode merosotnya kerajaan hindu-budha, Islam menyebar ke pesisir pulau jawa melalui hubungan perdagangan, kemudian dari pesisir ini sedikit lambat lalu menyebar ke pedalaman pulau jawa (Badri Yatim, 1998:198). Kecuali itu berita Ma huan tahun 1416 yang menceritakan dengan itu orang-orang muslim yang bertempat tinggal di Gresik, membuktikan bahwa baik di pusat kerajaan Majapahit maupun di pesisir, terutama kota-kota pelabuhan telah terjadi proses Islamisasi dan terbentuknya masyarakat muslim.
Pertumbuhan masyarakat muslim di sekitar Majapahit dan terutama di beberapa kota pelabuhannya erat pula hubungannya dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan yang di lakukan orang-orang muslim yang telah mempunyai kekuasaan ekonomi dan politik di Samudra pasai dan Malaka. Pada taraf permulaan masuknya Islam di pesisir utara jawa terutama di daerah kekuasaan Majapahit belum dapat dirasakan akibatnya di bidang politik oleh kerajaan Indonesia-hindu itu. Kedua belah pihak waktu itu mementingkan usaha untuk memperoeh keuntungan dagang.
Proses Islamisasi hingga mencapai bentuk kekuasaan politik seperti munculnya demak, dipercepat juga dari kelemahan-kelemahan yang dialami pusat kerajaan Majapahit sendiri, akibat kelemahan ini dikarenakan pemberontakan serta perang perebutan kekuasaan di kalangan keluarga kerajaan. Badri Yatim (1998:196) menyebutkan bahwa perebutan kekuasaan tersebut antara wikramawhardana dan bhrewirabumi yang berlangsung lebih dari sepuluh tahun, setelah bhrewirabumi meninggal perebutan kekuasaan di kalangan istana kembali muncul dan berlarut-larut.Lalu dilanjutkan pada tahun 1468 M Majapahit di serang oleh girindrawhardana dari Kediri, sejak itu kebesaran Majapahit dapat dikatakan sudah habis.
Menurut Mundzirin Yusuf (2006:77-78) perkembangan Islam di Majapahit bersamaan dengan waktunya dengan melemahnya posisi raja Majapahit, hal ini memberi peluang kepada raja-raja Islam pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang independen. Dibawah bimbingan spiritual sunan kudus, meskipun beliau bukan yang tertua di walisongo, Demak akhirnya berhasil menggantikan Majapahit sebagai kraton pusat. Hal ini disebabkan Raden Patah terang-terangan memutuskan ikatannya dengan Majapahit yang sudah tidak berdaya lagi, dengan bantuan daerah-daerah lainnya di jawa timur yang sudah Islam, seperti Jepara, Tuban, dan Gresik disamping dapat mendirikan kerajaan Islam, dia juga dapat merobohkan Majapahit. Kemudian dia memindahkan semua alat upacara kerajaan dan pusaka-pusaka Majapahit ke Demak, sebagai lambang tetap berlangsungnya kerajaan kesatuan Majapahit, tetapi dalam bentuk yang baru, yaitu Islam. Raden Patah mendapat dukungan dari para ulama besar yang disebabkan beberapa alasan. pertama, Raden Patah sendiri sudah memeluk agama Islam sejak di Palembang, kedua, menjadikan Demak bernapaskan Islam, yang diharapkan akan memudahkan jalannya Syi’ar agama Islam di bumi Jawadwipa, yang mayoritas beragama hindubudha. Ketiga, Raden Patah dan para ulama mendapat kemudahan dari Prabu Brawijaya V dalam mengembangkan agama Islam, sehingga tidak ada yang berani melawan Raden Patah (Wawan Susetya, 2009:241).
Hal-hal ini menunjukkan bahwa dalam abad ke-14 itu Islam di Majapahit bukan lagi sesuatu yang baru saja masuk, melainkan sesuatu yang sudah biasa. Mungkin sebagai agama, Islam masih sendiri, tetapi sebagai unsur kebudayaan telah diterima oleh masyarakat.
3.      Kondisi Islam di Majapahit
Pada awalnya kebanyakan masyarakat tidak mengira, bahwa di tengah kotaMajapahit yang sangat kental dengan agama hindu. Dengan kenyataan bahwa Islam telah tumbuh dan berkembang dengan subur pada masa kejayaan kerajaan Majapahit. Sehingga makam Toloyo merupakan suatu bukti bahwa dalam kehidupan beragama Hindu, Budha dan Islam dapat berlangsung secara harmonis. Semua hal ini dapat diketahui melalui adanya makam Troloyo yang berada di tengah-tengah sebuah kerajaan besar yang kental dengan agama Hindunya (Inajati Andrisijanti, 2012:168).
Dalam kondisi yang demikian Islam telah diberikan suatu kelonggaran untuk melakukan syi’ar kepada masyarakat Majapahit, antara lain yang melalui media makam, yakni dengan pesan-pesan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an, yang mengingatkan pada manusia bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati, suatu kematian yang kebanyakan orang menakutinya pasti akan ditemuinya. Terlepas dari boleh atau tidaknya dalam ajaran Islam yang pasti telah terbukti bahwa kutipan ayatayat Al-Qur’an banyak dijumpai dalam beberapa inskripsi berhuruf Arab, yaitu pada nisan di makam Troloyo (Inajati Andrisijanti, 2012:169).
Islam pada masa kerajaan Majapahit telah mendapatkan pengakuan dari pemerintahan yang berkuasa saat itu dan masyarakat pada umumnya. Padahal mayoritas agama yang dianut pada kerajaan Majapahit adalah agama Hindu dan Budha. Ini Menunjukkan syiar islam dilakukan dengan damai. Tidaklah mungkin Maka Troloyo masih lestari dan terjaga, jika pada saat Islam di Kerajaan Majapahit terjadi konflik dengan pengusasa maupun penduduk setempat. Yang unik adalah Islam Nusantara yang sudah tercermin pada waktu itu. Islam yang bukan ke Arab-Araban, tetapi Islam yang sudah melekat dengan budaya jawa.
4.       Saluran-Saluran Islamisasi
Kedatangan Islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya, dilakukan secara damai. Apabila situasi politik di suatu kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan yang di sebabkan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana, maka Islam di jadikan alat politik bagi golongan bangsawan, ataupun oleh golongan pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka berhubungan dengan pedagang-pedagang muslim yang posisi ekonominya kuat, karena mereka menguasai pelayaran dan perdagangan, sehingga apabila kerajaan Islam sudah berdiri, penguasanya melancarkan perang terhadap kerajaan non Islam. Hal itu bukanlah karena persoalan agama, tetapi karena dorongan politis untuk menguasai kerajan-kerajaan di sekitarnya.
Dari penjelasan diatas maka dapat dijelaskan bahwa proses Islamisasi di daerah Majapahit adalah melalui saluran-saluran Islamisasi sebagai berikut:

a.      Perdagangan
Diantara salah satu saluran Islamisasi di Jawa, khusunya di Majapahit pada taraf permulaan adalah perdagangan dan aliansi politik antara para pedagang dan raja, yang memainkan peranan didalamnya (Martin, 1995:187). Perdagangan juga mempergunkan sarana pelayaran. Yakni perdagangan yang dilakukan di Majapahit melalui sarana pelayaran dengan menggunakan bengawan Solo dan sungai brantas yang bermuara di laut jawa.
Pada masa Majapahit kedua sungai tersebut semakin kuat, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa tempat di sepanjang sungai tersebut yang menjadi pelabuhan pendaratan maupun pengangkutan khusunya barang-barang yang diperdagangkan. Perdagangan Majapahit semakin berkembang sejak berkuasanya dinasti song di China yang berpolitik terbuka bagi perdagangan internasional.Betapa padatnya lalu lintas sungai di masa Majapahit dapat diketahui dari sejumlah tempat penyebrangan yang disebut dalam prasasti Trowulan 1280 Saka (1358 M), dan prasasti lainnya disebutkan bahwa ada 44 tempat, tetapi hanya 3 tempat yang dianggap penting karena disebut sebagai tempat pemunggahan yakni tempat tersebut ada di tepi sungai brantas di daerah Mojokerto mulai dari hilir yang dinamakan Curabhaya, Trung, dan Canggu.Curabhaya yang sekarang ini menjadi Trosobo dan Trung yang sekarang bernama Trung kulon yang bertempat antara Mojokerto dan Surabaya, sedangkan Canggu sekarang terletak di Kecamatan Gedeg, Mojokerto (Sjamsudduha, 1998:35-36)
Sungai-sungai tersebut menghubungkan kota dan tempat perdagangan yang terletak di sepanjang perairan tersebut, baik yang ada di daerah pedalaman maupun yang berada di daerah dekat pantai. Beberapa buah prasasti yang berasal dari zaman Majapahit, bahkan yang berasal dari zaman sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa lalu lintas melalui sungai ini telah menduduki tempat yang sangat penting dalam kehidupan sosial ekonomi.
b.      Perkawinan
Pandangan dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status social yang lebih baik dari pada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama putri-putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum mereka melakukan perkawinan mereka di Islamkan terlebih dahulu, setelah mereka mempunyai keturunan, maka lingkungan mereka semakin luas. Akhirnya timbul kampungkampung, daerah-daerah, dan kerajaan-kerajaan Islam (Badri, 1998: 202).
Saluran Islamisasi perkawinan dilakukanantara pedagang muslim, mubaligh dengan anak bangsawan kerajaan Majapahit. Hal ini akan mempercepat terbentuknya inti sosial, yaitu keluarga muslim dengan masyarakat muslim. Dengan perkawinan itu secara tidak langsung orang muslim tersebut status sosialnya dipertinggi dengan sifat kharisma kebangsawanan. Lebih-lebih apabila pedagang besar kawin dengan putri raja, maka keturunannya akan menjadi pejabat birokrasi dalam kerajaan, putra mahkota kerajaan, syahbandar, qadi.
Selain itu saluran Islamisasi melalui perkawinan itu lebih menguntungkan lagi apabila terjadi perkawinan antara ulama atau golongan lain dengan anak bangsawan atau anak raja atau anak adipati. Lebih menguntungkan karena status social ekonomi, terutama politik raja-raja, adipati-adipati, dan bangsawan-bangsawan pada waktu itu turut mempercepat proses Islamisasi.
Seperti dalam cerita babad hikayat dan tradisi, sering didapati data mengenai perkawinan seorang pedagang atau golongan lainnya dengan anak bangsawan, dalam babad tanah jawa diceritakan tentang perkawinan antara putri Campa dengan seorang raja Majapahit yaitu Brawijaya, sedangkan ayah putri Campa adalah seorang misionaris muslim yang kawin dengan ibunya anak raja Campa yang semula bukan penganut Islam.
Perkawinan ulama yaitu maulana ishak datang di Blambangan dan melakukan perkawinan dengan putri raja Blambangan yang kemudian melahirkan Sunan Giri. Dalam babad tanah jawa juga diceritakan perkawinan antara Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Gede Manila, yakni putri dari Temenggung Wilatikta.
Dalam babad Cirebon diceritakan perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati, sedangkan dalam babad Tuban menceritakan perkawinan antara Raden Ayu Teja, yaitu putri Aria Dikara yang menjadi Adipati Tuban dengan syeih Ngabdurahman seorang pedagang Arab muslim yang kemudianmempunyai anak laki-laki dengan gelar Arab bernama Syeih Jali atau Jaleludin. Dari semua cerita dari babad Jawa, Islamisasi melalui perkawinan telah banyak dilakukan dari banyak kalangan bangsawan dengan pedagang dan ulama.
c.       Tasawuf
Selain Islamisasi melalui perdagangan dan perkawinan, saluran Islamisasi melalui tasawuf juga merupakan salah satu saluran penting dalam proses Islamisasi. Tasawuf merupakan salah satu aspek ajaran Islam yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia, khusunya jawa yang menjadi daerah kekuasaan Majapahit.
Bahkan hingga sekarang pengaruh ajaran tasawuf ini dapat ditemukan bukti-buktinya secara jelas pada tulisan-tulisan antara abad ke 13 M dan abad ke 18 M. Tasawuf termasuk kategori yang berfungsi dan membentuk kehidupan sosial bangsa Indonesia yang meninggalkan bukti-bukti jelas pada tulisan-tulisan antara abad ke 13 dan abad ke 18. Hal itu bertalian langsung dengan penyebaran Islam, dengan memegang peranan suatu bagian yang penting dalam organisasi masyarakat kota-kota pelabuhan.
Bersamaan dengan pedagang, datang pula para ulama, da’I, dan sufi pengembara. Para ulama atau sufi tersebut ada yang kemudian diangkat menjadi penasihat dan juga menjadi pejabat agama di kerajaan, sebagai contoh di Aceh ada syeikh Hamzah fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin ar raniri, Abd. Rauf singkel.Demikaian juga di kerajaan jawa khususnya Majapahit juga mempunyai penasihat yang bergelar wali, yang terkenal dengan walisongo (Masrifah, 2012: 11). Seperti halnya saat kerajaan Majapahit mengalami kekacauan semua adipati dan para temenggung rapat bersama untuk mencari seorang ulama yang bisa menentramkan wilayah Majapahit.
Maka pada zaman kerajaan dahulu, orang hindu sudah membuat cara apabila wilayahnya sedang mengalami kekacauan dan tidak bisa lagi mengatasi, barulah mereka membutuhkan seorang ulama dan dalam keputusan rapat semua anggota kerajaan Majapahit tersebut diputuskan dan menyetujui Sayyid Ali Rahmatulloh dari Campa munghtai, beliau putra dari Sayyid Ibrahim Asmarakhandi, adalah satu-satunya ulama yang akan diminta untuk menentramkan wilayah Majapahit (Nasiruddin, 2004: 20).
d.      Pendidikan
Proses pengajaran Islam kemungkinan besar juga banyak di lakukan lewat masjid, jika sebuah pendidikan atau pengajaran di lakukan di masjid, maka bentuk dari pengajarannya biasanya menggunakan bentuk halaqah-halaqah. Halaqah ini dengan bentuk lingkaran, atau mirip orang berdiskusi dengan guru di tengah-tengah yang sudah di lakukan di masa-masa awal perkembangan Islam masa Nabi Muhammad SAW dan para kholifah. Dan selanjutnya pendidikan Islam di masa Majapahit dilakukan pula lewat rumah-rumah ulama, karena jika kita melihat sistem pendidikan awal Islam juga banyak di lakukan di rumah-rumah ulama sebelum terbentuknya masjid.
Selanjutnya, setelah berkembang dan ada sarana pesantren Islamisasi yang dilakukan melalui pendidikan ini di terapkan baik pendidikan pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kyai-kyai, dan ulamaulama. Di pesantren atau pondok itu calon ulama, guru agama dan kyai mendapat pendidikan agama, setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwah ke tempat tertentu untuk mengajarkan agama Islam. Mislanya dapat di contohkan pesantren yang telah didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri Gresik, keluaran pesantren Giri ini banyak yang di undang ke Maluku untuk mengajarkan agama Islam.
Dengan demikian bisa dipastikan bahwa pendidikan masa Majapahit tidak jauh dari logika penyebaran masa awal Islam, rumah ulama dan masjid sebagai lembaga pendidikan pada tingkat sederhana, yang menjadi sarana efektif pendidikan Islam ke pada masyarakat jawa sebelum terbentuknya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang lebih sempurna.
e.       Kesenian
Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang, dikatakan oleh Sunan Kalijaga adalah tokoh yang sangat mahir dalam mementaskan wayang.Beliau tidak pernah meminta upah dalam pertunjukannya, tetapi beliau meminta para penonton untuk mengikutinya dalam mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih di petik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita wayang tersebut di sisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga dapat di jadikan saluran Islamisasi, seperti sastra (hikayat dan babad), seni bangun, dan juga seni ukir (Badri, 1996: 203).
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa Islamisasi di bumi nusantara (Majapahit) adalah melalui pendekatan budaya setempat, yang salah satunya adalah wayang. Maka dalam hal ini wayang di pergunakan sebagai media menyebarkan dan menanamkan ajaran-ajaran Islam di nusantara. Agar dapat memahami lebih dalam tentang wayang yang akhirnya dijadikan sarana menarik minat masyarakat Majapahit, disebabkan karena pertunjukan wayang di dalamnya terkandung tentang bentuk hubungan, tujuan, ruang lingkup, serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam ceritanya, selain itu wayang sering di sebut sebagai puncak seni tradisional klasik jawa, bahkan mendapat gelar Adilubung.
Dalam masyarakat jawa, kisah-kisah dalam pertunjukan wayang tidak hanya sekedar hiburan saja, melainkan dianggap sebagai tuntunan, dianggap juga sebagai Ngelmu (Bahasa jawa), atau falsafah kehidupan yang bisa memberi katarsis bagi penontonnya. Bagi orang jawa kala itu menonton wayang tidak sekedar menonton kesenian, melainkan untuk meneguhkan kembali jiwa mereka, menggali kembali falsafah nilai, sikap hidup, atau dengan kata lain menonton wayang merupakan aktivitas latihan memelihara keyakinan dan nilai-nilai kearifan mereka.
Rupanya para sunan (wali) penyebar agama Islam tempo dulu menggunakan sebuah pendekatan, yang di sebut pendkatan substansial dari pertunjukan wayang sebagai sarana dakwah dalam menyebarkan agama Islam di tanah jawa. Karena pada zaman hindu budha, wayang sudah di gemari oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Oleh sebab itu keahlian dan kepiawaian para wali memanfaatkan seni pertunjukan wayang dengan memasukkan ajaran Islam ke dalam konsep cerita, serta namanama wayang itu sendiri.
Dari semua proses islamisasi yang diterapkan di bumi Majapahit, setidaknya dapat diambil kesimpulan bahwa islam dapat diterima dengan baik hanya dengan jalur damai. Bukan dengan jalur kekerasan seperti yang selama ini sedang booming. Baik mengatasnamakan jihad fi sabilillah maupun mendirikan khilafah. Islam justru akan tercemar dengan pemahaman yang radikal tersebut. Islam yang didakwahkan pada negeri Majapahit yang mayoritas Hindu Budha ini dapat menjadi panutan dalam mensyiarkan agama Islam. Syiar dengan menggunakan budaya lokal, bahkan mengkawinkan islam dengan kearifan lokal, terlepas dari pandangan islam puritan. Islam dapat menyesuaikan dengan budaya Arab, karena memang turun di bumi Arab. Yakni dengan meneruskan budaya yang baik dan mengganti budaya yang buruk. Demikian juga ketika islam berada di bumi Majapahit, islam dapat disesuaikan dengan budaya lokal tanpa mengurangi kesucian agama islam. Islam bukanlah agama orang Arab saja, melainkan Islam adalah Agama seluruh umat manusia di seluruh dunia.

5.      Daftar Pustaka

Andrisijanti, Inajati. 2012. Majapahit Batas Kota& Jejak-Jejak Peradaban. Yogyakarta: BalaiArkeologi Yogyakarta.

Bruinessen, Martin Van. 1995.  Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat. Bandung: Mizan


Nasiruddin, Cholil. 2004. Sejarah Sayyid Jumadil Kubro. Jombang: SEMMA

Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Sjamsudduha. 1998. Sejarah Sunan Derajat Dalam Jaringan Masuknya Islam Di Nusantra. Surabaya: Tim Peneliti dan Penyusun Buku Sejarah Sunan Drajat.

Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Sunanto, Musyrifah. 2012. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Susetyo, Wawan. 2009. Senyum Manis Wali Sanga. Yogyakarta: Diva Press

Whab, Wahib. 2008. Syeikh Jumadil Kubro Punjer Walisongo. Mojokerto: Pemerintah Kabupaten Mojokerto

Yatim, Badri. 1998. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Yusuf, Mundzirin. 2006. Sejarah Peradaban Islam Di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka


التعليم بين الماضي والحاضر

بسم الله الرحمن الرحيم
التعليم بين الماضي والحاضر
"ماض مشع بأنوار العلم والمعرفة وحاضر مهدم الأركان"

الفرق بين التعليم بين الماضي والحاضر، وكذا التعامل بين المعلم والطالب، وأسبابه بالقول: “في الماضي كان هناك احترام للمعلم والمعلمة بدرجة كبيرة، وهو ما نفتقده في الوقت الحاضر، حيث غابت فيه حتى الكلمة المحترمة من قاموس مفرداتهم تجاه معلميهم ومعلماتهم على حد سواء، ففي الماضي لم يكن الاحترام مفروضاً على الطالب بل كان نابعا من علمنا بأهمية المعلم والعلم، أما ما تعيشه العملية التعليمية في وقتنا الراهن فيمثل العكس تماماً، حيث أصبح هذا الاحترام يفرض على الطالب، ومع هذا لم يتم الاستجابة له أو العمل به، في السابق إن وجد من المشاغبين فيوجد قليل في الفصل أما اليوم فجميع طلاب الفصل مشاغبون إلا من رحم ربي، كما أن المعلم لم يعد له هيبة في الفصل الدراسي كما كان في الماضي، حالياً إن جاز لي التشبيه أصبحت الفصول الدراسية كالمقاهي، حيث يكون المعلم يشرح الدرس والطلاب غير مبالين، كلا في جوه، شغب وفوضى وو..إلخ”.  

 ) 
المعلم في الماضي (

شخص ذو مكانة اجتماعية , لا يجرؤ ابن أنثى التطاول عليها [ طالب / ولي أمر / صحفي / ناقد / حاقد ] كفلت له وزارة التربية والتعليم حقّه كاملاً غير منقوص , ينعم بمدرسة "طويلة الأجل" يحوي كل فصل من فصولها نيفاً وعشرين طالباً , لا تبعد عن منزله إلا دقائق معدودة , ثم يعود منها ليمضي ما تبقّى من يومه بين أهله وذويه .

المعلّم اليوم(

شخص جُرّد من كافة الصلاحيات, فهو ممنوع من [ إيقاف الطالب / ضربه / تأنيبه / إخراجه خارج الفصل / خصم درجاته / تهديده بخصم الدرجات ] أُقحم بعد أن بُتر جزءاً كبيراً من مرتّبه بين أربعون طالباً أو يزيدون , فبات حائراً بين تنظيم وإدارة هذا الكم الهائل من الطلاب , وإيقاظ متوسّدي الطاولات "في ظل إنعدام الهيبة والصلاحيات" وبين شرح الدرس . .

يعود من مدرسته التي تبعد عن مقرّ سكنه الأصلي مسافة تتراوح ما بين [ 300 / 2500 ] كلم , ليقف عند أحد المطاعم وينتظر الغداء المعدّ بأيدٍ بنغالية أمينة , فيتذكر رائحة "كبسة" الأهل , ولكم أن تتصوروا ما لهذا الموقف من أثر نفسي سيء للغاية ومردود محبط لا يعرفه إلا من تجرّع مرارته . .

---------------------------------
)الطالب في الماضي(

شخص تغلب عليه البراءة , يُسمع لأسنانه اصتكاك مُزعج عندما تُذكر المدرسة في حضوره , فالمُعلم من أمامه , ووليُ أمره من خلفه , فويلٌ له ثم ويلٌ له إن ضرب بواجباته عرض الحائط , تتردد على مسمعه دائماً "لكم اللحم ولي العظم" فيحرص على الإهتمام , ويهرع إلى حلّ واجباته ومذاكرة دروسه بمجرد عودته إلى المنزل , فالملهيات قليلة إن لم تكن معدومة عند البعض , ناهيك عن الأدب الجمّ والخلق الرفيع . . فقد قيل "لن يتعلّم إلا راغب أو راهب" . . والرغبة مفقودة منذ الأزل"إلا من رحم ربّي" , فحلّت الرهبة محِلّها .


الطالب اليوم (

شخص تغلب عليه "اللكاعة" , لا يجد في المدرسة إلّا مكاناً للنوم , ولا يرى في المُعلّم إلا وسيلة للتسلية والضحك , وآلة لجسّ النبض والاستفزاز والتهكّم , وحُق له أن يفعل , فالماثل أمامه ممنوع من كل شيء , وليس لديه أي صلاحية تخوّله حتى للدفاع عن نفسه إلا في حال طرحه الطالب أرضاً , عندها يُسمح له بالدفاع , والدفاع فقط !!!

يخرج الطالب من المدرسة بعد أُتخم بما لذ وطاب من مقاطع الفيديو التي تناقلها مع أصدقائه في المدرسة , ليُقلّه السائق إلى المنزل , فيخلد إلى النوم عند الساعه الثانية ظهراً بعد وجبة دسمة قامت باعدادها الخادمة الكريمة .. ليصحوا عند الساعة الحادية عشرة ليلاً ويبدأ في جولته الإنترنتّية التي تنتهي ببداية الحصّة الأولى من اليوم التالي . .

لقد كان التعليم في الماضي وفي فجر الاسلام بالتحديد وبما امر به رسولنا الكريم صلى الله عليه وعلى اله وصحبه وسلم يعتمد على اماكن صغيره تسمى الكتاتيب تفتقر الى كل مستلزمات التدريس وتدرس فيها القراءة والكتابة واصول الدين والقران الكريم ثم بعد ذالك بدات النهضة التعليمية فانشات المدارس في زمن الاموين والعباسين وكثرت اعداد الطلبة الملتحقين بها وتطورت المناهج وبدات تدرس الرياضيات والفلك والفلسفه واصبحت الامه العربية الاسلامية محط انظار العالم وتخرج العديد من الطلبة من هذه المدارس والذين يحفظ لهم التاريخ والمكتبات العديد من الولفات النادره واثناء الاستعمار تطور التعليم وانشات المدارس الحديثه وتطورت المناهج كثيرا ونبغ العديد من الطلبة في مختلف المجالات اما اليوم ورغم توفر كل مستلزمات الدراسة والمناهج الحديثه وكثرة الاساتذة ومجانية التعليم لكن تقهقر تعليمنا الى الوراء واصبحنا في ذيل القائمه انتشرت الامية وكثرة اعداد الطلبة المتسربين وفقد تلاميذنا الجانب التربوي فلم يعد الطالب يحترم الاستاذ وابتعد كثيرا عما يريده منه الوطن لكن لانعلم واين نقع باللوم هل على مؤسساتنا التربويه واساتذتها وزاراتها ام على الاسر والتلاميذ انفسهم


       المدرسة من سيئ إلى اسوا   لان المنزل من سيئ إلى اسوا  ياعزيزتي
فـــ الطالب  يقضي ستة ساعات بالمدرسة بينما يقضي18 ساعة بالمنزل اي بنسبة من30الى70% بين المدرسة والمنزل
أي انه يتحمل النسبة الاعلى في التربية والتعلم ثم يأتي دور المدرسة ويبني على هذا الاساس فإذا كان الاساس صلب وقوي 
كان ذلك مساعدآ للمدرسة في نجاحها والقيام بالادوار المنوطة بها , وهذه مشكلة المجتمعات عندما تنظر للتعليم على انه يتحمل الجزء الاكبر في تأخر أبنائنا تربويآ وعلميآ  متناسية الاساس والركيزة الاساسية في بناء المجتمعات وهي الأسرة ودورها بداخل المنزل فلايمكن للمعلم ان يعود الطفل على إحترام الناس وهو لايحترم والديه في المنزل بسبب التراخي معه وتدليعه وتحقيق كل رغباته المفيدة والسيئة وهذا قد اثبتته الدراسات والابحاث العلمية مؤخرآ من واقع الميدان وعندما يفشل الأبناء ياتون  الأباء
.
ففي الماضي القريب كانت المعلمة هي الأم الثانية للطالب، وربت وخرجت الكثير والكثير، حالياً لا تأمن المعلمة على نفسها من تصرفات طلابها الطائشة والمتجردة من الأخلاق، بل وأصبح لا ينظر إليها كأم ومعلمة بل على العكس تماماً نتيجة لنشأة هذا الجيل على خدمات النت وشبكات التواصل الاجتماعي ووسائل الإعلام التي تغرس في نفوسهم الأفكار السيئة والمنحرفة في كثير من الأحيان.  

قِيل في الأثر “من علمني حرفا صرت له عبداً”، مقولة تدل على مكانة المعلم ورفعته، وذلك لما للعلم من أهمية كبيرة في حياة الأفراد والمجتمعات، والآن للعلم والمعلم مكانة رفيعة، كانا يحظيان باهتمام واحترام وتقدير من الجميع، كما كان للمعلم هيبة واحترام في نفوس تلامذته، بل ويعتبر شيئا مقدسا لا يمكن الاعتداء عليه ولو بكلمة واحدة، هذا التعامل والتقدير من الطلاب يقابله تعامل تربوي راقٍ ومسؤول من قبل المعلمين امتزجت في نفوسهم روح المعلم الصلب والأب الحنون.  

وهو ما جعل التعليم ناجحاً بكل المقاييس، تربوي قدير وكفء، ومنهج واضح ومبسط، ومدارس متوفرة، وطالب منضبط، عملية تعليمية مكتملة الأركان

مقولة “من علمني حرفا صرت له عبداً” لم تعد تلاقي ذلك الاهتمام، من قبل الجميع معلمين وطلاب، وجهات ذات علاقة.

معلم فقد هيبته التربوية، ولم يعد يحظى بأي احترام أو تقدير من قبل تلامذته، والمؤسف أن اهتزاز مكانة المعلم يعود السبب الرئيس فيها إلى المعلم نفسه، فكثيراً ما تجد معلمين هم من أزاحوا الحاجز التربوي بينهم وبين تلامذتهم، فتجدهم يتعاطون القات في أماكن عامة ويتبادلون أطراف الحديث، إن لم يكن الطالب هو استضاف معلمه أو العكس، ومن هنا تحولت العلاقة بينهم ليس علاقة معلم بطالب يسودها الهيبة والاحترام، بل علاقة صداقة، يسودها المجاملة، والمحاباة، وتدني مستوى التعليم، والتشجيع على التغيب والتأخر، والاعتداء على المعلمين في بعض الأحيان، بعد أن فقد المعلم هيبته وانتزعت من نفوس الطلاب.  

كما أن انتشار الإنترنت وشبكات التواصل الاجتماعي قد ألهت الكثير من الطلاب عن الاهتمام بدراستهم، نتيجة لغياب الرقابة الأسرية، ويعد الصراع السياسي الذي تشهده البلاد منذ سنوات، واستخدام المدارس أحد الأمكنة لتصفية تلك الحسابات بطريقة مخالفة للنظم والقوانين أضرت كثيراً بالطالب وبتحصيله العلمي، وبالعملية التعليمية برمتها، كما أن ضعف مرتبات المعلمين، وارتفاع أسعار المعيشة والوضع المعاش لعب دوراً كبيراً أيضاً في إضعاف دور المعلم من المرشد للطريق السوي إلى عامل مساعد في ضياع التلميذ.  


يقول الطالب مجد محمد (ثالث إعدادي) “أتذكر إلى اليوم عندما كنت في أول ابتدائي، كان يحظى المعلم والمعلمة بهيبة، واحترامهم، وتقدير، كما أن التعامل فيما بيننا كان يقوم على أساس التعامل بين الأب وابنه، بل وكنا نضعهم قدوة ونحلم بأن نكون أمثالهم في المستقبل، ولكن مع الأسف لقد أصبح في الوقت الحاضر العلاقة بين الطالب والمعلم، علاقة صديق بصديقه، والمؤسف الأكثر بأن تجد الطالب يتعامل مع معلمته بطرق وتصرفات غير أخلاقية، تشي عن مدى الانحطاط في التعليم الذي توصلنا إليه، وكذا غياب هيبة واحترام المعلم”.  

**
فرق كبير جداً**

وأضافت: “أصبحت للطالب قواعده الخاصة التي يفرضها في المدرسة كالحضور والغياب ومغادرة المدرسة متى شاء، بل إن الطالب بات يتعامل مع معلمته في هذه الأيام كما يتعامل المالك مع الخدم يسودها كثيراً من الوقاحة وقلة الأدب، والمؤسف بأن نتفاجأ في حال استدعاء ولي أمر الطالب بتأييد الأب أو الأم لتصرفات أبنائهم، بينما كان هذا التصرف يعد لنا أقسى عقوبة، كما أننا كنا نخشى أن تلتقي أعيننا بأعينهم خوفاً منهم واحترماً لهم”.  

وعن الأسباب التي أدت إلى هذا التغير الكبير في سير العملية التعليمة وضعف العلاقة بين المعلم والطالب في وقتنا الحضر قالت فاتن: “لا أعلم حقيقة السبب الرئيس في هذا التغير الملحوظ، ولكن قد يكون بسبب الأوضاع التي تعيشها البلاد أو عدم رغبتهم بالتعليم نتيجة لكثافة المنهج الدراسي الذي لا يتناسب مع مستوياتهم التعليمية”.  

**
غياب الاحترام**
لقد طرأت بين علاقة الطالب والمعلم كثيراً من التغيرات إذا ما تم المقارنة بين التعليم في الماضي والحاضر، هذا ما بدأت به المعلمة ارتزاق إسكندر حديثها لـ«الأيام» عن ضعف العملية التعليمية في وقتنا الحاضر وكذا ضعف العلاقة بين الطالب والمعلم”، مضيفةً: “إن هذا التغير لم يطل المعلمات وحسب أو على سلوك وبيئة التلميذ، ولكن العلاقة مشتركة والأسباب متعاقبة تدور في دائرة مغلقة فالمعلم الذي كان يمتهن مهنة التعليم لم تكن مهنة فقط بل هي إحساس لهذا العمل الجليل الذي يقدمه للمجتمع وللأجيال المتعاقبة ومن هنا فإن المعلمين قديما كان تهذيبهم الداخلي وإحساسهم بأهمية هذه المهنة تنعكس بصورة جلية في تفاعلاتهم مع تلاميذهم بصدق وعقلانية وبشدة وحزم، لأن داخله مفعم بحب المهنة ويشع بعلم اكتسبه بفطرته وجهده واجتهاده، ومن هنا كان الطالب يرى في معلمه بأنه الصرح الذي يمنحه العلم والمعرفة والفهم، الأمر الذي أكسب المعلم في الماضي كل الاحترام والحب والتقدير، أما الآن فالوقت تغير وانقلب رأساً عن عقب، حيث إن العلاقة بين المعلم والطالب أصبحت سيئة بنسبة كبيرة.  

كما أن ما تشهده العملية التعليمية من ارتباك، وتمكين الطلاب من النجاح خصوصاً في المراحل الانتقالية خلال السنوات السابقة، ولَّد لدى التلاميذ شيئا من الاتكالية لضمانهم النجاح دون بذل أي جهد أو تعب، دون أن يشعروا بأن هذا التصرف من قبلهم من شأنه أن يدمر عقولهم، وموت بطيء لأخلاق الشعب ومبادئه ومعتقداته وحتى احترامه لنفسه ولغيره”.

**
علاقة يشوبها الكثير من السلبيات

من جهته قال المواطن علي الدياني: “لقد كانت التربية والتعليم في فترات ما قبل الوحدة ترتكز على أساس علمية صحيحة، حيث كانت فيها التربية تسبق التعليم بعكس ما هو عليه اليوم، حيث أصبح التعليم في يومنا هذا عبارة عن حشو في المناهج الدراسية والتي لا يتمكن الطالب من استيعابها، كما كانت العلاقة بين المعلم والطالب قائمة على الاحترام المتبادل في داخل الفصل وخارجه، بل ويعتبر المعلم هو القدوة التي يُحتذى بها، بعكس العلاقة الحالية التي يشوبها الكثير من الفتور، فضلاً عن صعوبة المنهج الدراسي، ومن المؤسف أن هذه العلاقة يسودها في بعض الأحيان ظاهرة تداول بعض الممنوعات والآفات كالقات والسجائر والشمة وغيرها من العادات السيئة، والتخلص من هذه الظواهر والارتقاء بالعلم الحقيقي وإعادة الهيبة للتربية والتعليم الحقيقية، يجب على الجهات المعنية والمختصة في الدولة تغيير المناهج الدراسية وإعادة الوجه الحقيقي للتربية والتعليم”.  





﴿ الإضافة ﴾
قدْ تقدّمَ أنّ التركيب الإضافِىَ هو جَعْل اسمين فأكثر اسمًا واحِدًا يُسمّى الجزءالأوّل مُضافًا وغيره مُضافًا اليه. والمُضاف محل الإعراب فإن دخل عليه الرافِع يُرْفع نحو: جاء صاحِب زيد، أوالناصب نُصِبَ نحو: رأيتُ صاحِبَ زيد، أوالجارّ جُرّ نحو مررتُ بصاحِب زيد، والمُضاف اليه مجرُورًا ابدًا امّا جليًا نحو: صاحِب زيد وامّا محلاً نحو: صاحِبِكَ
ويجِبُ تجْرِيد المُضاف عن التنوين كما فى المِثال، وعن نونى التثـنية والجمع نحو: صاحِبا زيد، وصاحِبُوا زيد، وعن ألْ إلاّ ما اُستُثنِى وسيأتى بيانه. ولايجْرى هذا الحكم فى المُضاف اليه
والإضافة على ثلاثة أقسامٍ : الأوّل ما يُقـدّر بِمِنْ نحو : ثَوْب حُزّ وباب ساجٍ، والضابط أن يكون المضاف بعضًا مِن المضاف إليه كما فى المِثال
والثانى. ما يُقـدّر بِفِى، والضابط أن يكون المضاف اليه ظرف للمضاف نحو: مكْر الليل، فإنّ الليل ظرف للمكر
والثالث ما يُقـدّر باللام وهو الأكثر، والضابط أن لا يكون صالحًا بتقدير مِنْ ولابتقدير فى نحو صاحِب زَيْدٍ .
الجُمْلة
هِى ما تُرُكّب مِن اثنين فأكثر تركيبًا اسناديًا وأركانُها اثنان مُسْنَد ومُسنداليه. وشُرِط فى المُسند أن يكون اسمًا إمّا لفظًا أو معنًى. وفى المسند إليه أن يكون فِعلاً امّا لفظًا أو معنًى.
وهى تنقسم إلى فعلية واسمية. فالفعلية هى ماتركب من الفعل الذى هو المسند إليه والفاعل الذى هو مُسند نحو: جاء زيد، ويُعْـجِبُنِى أن تقوم تقـديره يُعجبنى قِيامُكَ. والإسمية هى المركبة من المبتداء الذى هو مُسند والخبر الذى هو مسند إليه نحو زيد قام وزيد قائم، وأن تصوموا خير لكم. تقديره صيامكم خير. وتقدّم الكلام فى الفعلية فى باب الفعل والفاعل ونائب الفاعل فَلْيُرجَعْ اليه. والله ولِى التوفيق.

شرح ابن عقيل - (ج 2 / ص 42)
الاضافة
 نونا تلى الاعراب أو تنوينا         *     مما تضيف احذف كطور سينا
والثانى اجرر، وانو  من أو في إذا   *     لم يصلح الا ذاك، واللام خذا
لما سوى ذينك، واخصص أولا       *     أو أعطه التعريف بالذى تلا

إذا أريد إضافة اسم إلى آخر حذف ما في المضاف: من نون تلى الاعراب - وهى نون التثنية، أو نون الجمع، وكذا ما ألحق بهما - أو تنوين، وجر المضاف إليه، فتقول: " هذان غلاما زيد، وهؤلاء بنوه، وهذا صاحبه ".
واختلف في الجار للمضاف إليه، فقيل: هو مجرور بحرف مقدر - وهو اللام، أو " من "، أو " في " - وقيل: هو مجرور بالمضاف [ وهو الصحيح من هذه الاقوال ].
ثم الاضافة تكون بمعنى اللام عند جميع النحويين، وزعم بعضهم أنها
تكون أيضا بمعنى " من " أو " في "، وهو اختيار المصنف، وإلى هذا أشار بقوله: " وانو من أو في - إلى آخره ".
وضابط ذلك أنه إن لم يصلح إلا تقدير " من " أو " في " فالاضافة بمعنى ما تعين تقديره، وإلا فالاضافة بمعنى اللام فيتعين تقدير " من " إن كان المضاف إليه جنسا للمضاف، نحو " هذا ثوب خز، وخاتم حديد " والتقدير: هذا ثوب من خز، وخاتم من حديد.
ويتعين تقدير " في " إن كان المضاف إليه ظرفا واقعا فيه المضاف، نحو " أعجبني ضرب اليوم زيدا " أي: ضرب زيد في اليوم، ومنه قوله تعالى: (للذين يؤلون من نسائهم تربص أربعة أشهر) وقوله تعالى: (بل مكر الليل والنهار).
شرح ابن عقيل - (ج 2 / ص 44)
فإن لم يتعين تقدير " من " أو " في " فالاضافة بمعنى اللام، نحو " هذا غلام زيد، وهذه يد عمرو " أي: غلام لزيد، ويد لعمرو.
وأشار بقوله: " واخصص أولا - إلى آخره " إلى أن الاضافة على قسمين: محضة، وغيره محضة.
فالمحضة هي: غير إضافة الوصف المشابه للفعل المضارع إلى معموله.
وغير المحضة هي إضافة الوصف المذكور، كما سنذكره بعد، وهذه لا تفيد الاسم [ الاول ] تخصيصا ولا تعريفا، على ما سنبين.
والمحضة: ليست كذلك، وتفيد الاسم الاول: تخصيصا إن كان المضاف إليه نكرة، نحو " هذا غلام امرأة "، وتعرفا إن كان المضاف إليه معرفة، نحو " هذا غلام زيد ".
* * * وإن يشابه المضاف " يفعل " * وصفا، فعن تنكيره لا يعذل
كرب راجينا عظيم الامل * مروع القلب قليل الحيل
شرح ابن عقيل - (ج 2 / ص 45)
وذى الاضافة اسمها لفظية * وتلك محضة ومعنوية هذا هو القسم الثاني من قسمي الاضافة، وهو غير المحضة، وضبطها المصنف بما إذا كان المضاف وصفا يشبه " يفعل " (أي: الفعل المضارع - وهو: كل اسم فاعل أو مفعول، بمعنى الحال أو الاستقبال، أو صفة مشبهة [ ولا تكون إلا بمعنى الحال ].
فمثال اسم الفاعل: " هذا ضارب زيد، الآن أو غدا، وهذا راجينا ".
ومثال اسم المفعول: " هذا مضروب الاب، وهذا مروع القلب ".
ومثال الصفة المشبهة: " هذا حسن الوجه، وقليل الحيل، وعظيم الامل ".
فإن كان المضاف غير وصف، أو وصفا غير عامل، فالاضافة محضة: كالمصدر، نحو " عجبت من ضرب زيد " واسم الفاعل بمعنى الماضي، نحو " هذا ضارب زيد أمس ".
وأشار بقوله: " فعن تنكيره لا يعذل " إلى أن هذا القسم من الاضافة - أعنى غير المحضة - لا يفيد تخصيصا ولا تعريفا، ولذلك تدخل " رب " عليه، وإن كان مضافا لمعرفة، نحو " [ رب ] راجينا " وتوصف به النكرة،


luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus