Minggu, 06 Maret 2016

SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA MASA KHALIFAH UMAR, UTSMAN DAN ALI

JURNAL AKADEMIK SEJARAH PERADABAN ISLAM
NAMA           : SYAIFUL BAHRI
NPM               : 21502011011
FAK/PRODI : Pascasarjana/Magister Pend. Agama Islam
 


KHALIFAH UMAR, UTSMAN DAN ALI

UMAR BIN KHATTAB
Umar bin Khattab ditunjuk oleh Abu Bakar sebagai khalifah pada tahun  634 M/13 H. Hal ini merupakan perbuatan yang aneh, karena memang belum pernah terjadi sebelumnya. Ada tiga faktor yang mendorong Abu Bakar dalam penunjukkan Umar sebagai penggantinya. Pertama, khawatir kekacauan politik di Tsaqifah bani Saidah pasca meninggalnya Rasulullah terjadi kembali bila Abu Bakar tidak menunjuk langsung penggantinya. Kedua, kaum Anshar dan kaum Muhajirin saling mengklaim sebagai seorang yang berhak menjadi khalifah. Ketiga, kaum murta dan pembangkang saat itu baru saja ditumpas. Sementara Mujahidin sedang bertempur diluar Madinah dan Romawi.
Penunjukkan Abu Bakar terhadap Umar, bukan tanpa melalui musyawarah. Melainkan, sebelumnya Abu Bakar telah melakukan rapat terbatas dengan tokoh islam senior, antara lain, Abdurrohman bin Auf, Ustman bin Affan, Asid bin Hadir, dan seorang Anshar. Musyawarah ini menghasilkan persetujuan secara kolektif dan objektif tentang pemilihan Umar sebagai Khalifah pengganti Abu Bakar.
Peradaban yang paling signifikan pada masa Umar, selain pola administrasi pemerintahan, peperangan dan sebagainya adalah pedoman dalam peradilan. Pemikiran Khalifah Umar khususnya dalam peradilan menjadi acuan sampai sekarang. Meski saat itu sempat ditentang, karena diangap menyimpang terhadap hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT.

UTSMAN BIN AFFAN
Sebelum Umar meninggal, ia merekomendasikan tiga calon, yaitu Utsman, Ali dan Saad. Umar berpesan agar tidak mengangkat khalifah dari kerabatnya sendiri.Selain itu, Umar juga membentuk semacam ahl hal wal aqdi, yaitu Ali, Utsman, Saad, Abdurrahman, Zubair dan Thalhah. Abdullah bin Umar menjadi Anggota, tetapi tidak memiliki suara, atas rekomendasi Umar bin Khattab.
Mekanisme pemilihan khalifah setelah Umar sebagai berikut: Pertama, yang berhak menjadi khalifah adalah orang yang dipilih ahl hal wal aqdi dengan suara terbanyak, Kedua, jika hasil voting berimbang, maka Abdullah bin Umar yang berhak menentukan, Ketiga, jika keputusan Abdullah bin Umar masih tidak diterima, maka Abdurrohman bin Auf yang memutuskan siapa yang menjadi khalifah. Kalau masih ada yang menentang, maka penentang tersebut hendaklah dibunuh.
Akhirnya terpilihlah Utsman sebagai khalifah bedasarkan keputusan Abdurrahman bin Auf. Meskipun mengakibatkan kekecewaan bagi Ali dan pendukungnya. Karena antara Ustman dan Abdurrahman bin Auf mempunyai hubungan kekerabatan.
Karya terbesar pada masa Khalifah Utsman bin Affan adalah pembukuan Al Qur’an. Hal ini untuk mengakhiri perbedaan pembacaan Al Qur’an dikalangan umat Islam. Pembukuan ini dilaksanakan dengan diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Dalam bidang pembangunan pada saat itu antara lain pembangunan pemukiman, jembatan, masjid, jalan, wisma tamu, dan pembangunan kota. Pembangunan berbagai sarana umum ini menunjukkan bahwa Utsman sebagai khlifah yang memperhatikan kemashlahatan publik sebagai bentuk dari manifestasi kebudayaan sebuah masyarakat.

ALI BIN ABI THALIB
Ali dibaiat di tengah-tengah masa berkabung atas terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan dan pertikaian dan kekacauan di berbagai wilayah. Kaum pemberontak yang membunuh Utsman menghendaki Ali dibaiat menjadi khalifah penggantinya. Tetapi tokoh senior seperti Thalhah, Zubair, Saad, Abdullah bin Umar dan Ali sendiri menolak. Hal ini bertentangan dengan kaum Anshar dan Muhajirin yang bersikukuh untuk menjadikan Ali sebagai khalifah. Ali menolak permintaan tersebut sebab ia mengharapkan urusan pergantian khalifah ditentukan melalui musyawarah dan harus diseutui oleh tokoh senior pada saat itu.
Akhirnya Ali dibaiat oleh mayoritas rakyat dari Muhajirin dan Anshar serta tokoh sahabat, seperti Thalhah dan Zubair, meskipun banyak juga sahabat senior yang menolak. Pembaiatan Ali dilatarbelakangi oleh kekacauan yang semakin besar jika tidak segera diangkat pemimpin, yang pada akhirnya Ali bersedia untuk dibaiat.
Peristiwa penting pada masa pemerintahan Ali adalah peristiwa Tahkim. Yakni penyelesaian konflik politik antara Ali dan Muawiyah. Pihak Ali diwakili oleh ulama yang terkenal jujur dan tidak cerdik berpolitik, yakni Abu Musa Al Asy’ari. Sedangkan dari pihak Muawiyyah diwakili oleh seorang yang terkenal cerdik berpolitik, yaitu Amr ibn Ash. Sehingga dalam Tahkim tersebut, dimenangkan oleh kubu Muawiyyah.
Setelah kejadian Tahkim tersebut, pihak A pendukung Ali tyerpecah menjadi dua, pertama: terpaksa menerima Tahkim dan tetap setia mendukung Ali, kedua: menolak hasil Tahkim dan keluar dari mendkung Ali. Kelompok kedua ini menyatakan perlawanan terhadam Muawiyyah maupun Ali, yang kemudian dikenal dengan kelompok Khawarij. Sedangkan kelompok yang fanatik dalam mendukung Ali pada akhirnya dikenal dengan kelompok Syi’ah.
Yang dilakukan dalam peradaban pada masa Ali antara lain:
1.       Menarik kembali tanah yang pernah dibagikan Utsman kepada kaum kerabatnya menjadi kepemilikan negara.
2.       Mengganti gubernur yang tidak disenangi rakyat.
3.       Menyuruh Muawiyyah meletakkan jabatannya, tetapi menolaknya. Bahkan ia tidak mengakui kekhalifahan Ali.


0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus