Minggu, 06 Maret 2016

SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

JURNAL AKADEMIK SEJARAH PERADABAN ISLAM
NAMA           : SYAIFUL BAHRI
NPM               : 21502011011
FAK/PRODI : Pascasarjana/Magister Pend. Agama Islam
 


SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

Pada pertemuan kemarin dibahas tentang ayat ‘setan’ (ayat gharaniq):
تلك الغرانيق العلى ، وإن شفاعتهن لترجى
Artinya: ”Itulah tiga berhala (gharaaniq) pertama. Sesungguhnya syafa’at ketiganya sangat dinantikan”.
Ketika kaum Quraisy mendengar perkataan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam tersebut, mereka langsung bersuka cita. Mereka berkata,”Muhammad telah menyebutkan tuhan-tuhan kita dengan sebutan yang baik”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh Malaikat Jibril yang berkata : “Apa yang telah engkau perbuat? Mengapa kamu membacakan kepada manusia sesuatu yang tidak aku bacakan kepadamu (dan juga) bukan berasal dari Allah?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pun merasa bersedih dan sangat takut. Maka Allah pun menurunkan ayat: “...... Allahmenghilangkan apa yang dimasukkan syaithan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya.... (QS. Al-Hajj : 52) (Fathul-Bayaan fii Maqaashidil-Qur’an IV/244-245 ; Tafsir ath-Thabari, jilid 17, hal.131-134; Jalaluddin Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur, jilid 4, hal.194, 366-368; Ibnu Hajar Asqalani, Fath al-Bari fi Syarh al-Bukhari, jilid 8, hal.233)).
Perihal keshahihan peristiwa Gharaniq diatas para Ulama’ berbeda pendapat. Ada yang menerima dan banyak pula yang menolak.
Menurut saya, cerita itu mengandung kontradiksi dengan ayat – ayat berikut:
لَوْ تَقَوّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأقَاوِيلِ * لأخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ * ثُمّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ
”Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya” (QS. Al-Haaqqah : 44-46).
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىَ
”Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya” (QS. An-Najm : 3).
وَلَوْلاَ أَن ثَبّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً
”Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka” (QS. Al-Israa’ : 74).
Sehingga ada dua pilihan dalam menjawab cerita Gharaniq:
1.       Jika memang cerita tersebut benar, niscaya Allah segera mengingatkan dan menasakh ayat gharaniq tersebut. Berdasar QS Al Hajj : 52, “...... Allahmenghilangkan apa yang dimasukkan syaithan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya.... “ Pendapat ini didukung oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Yang mengatakan bahwa cerita Gharaniq sah, meskipun sanadnya mursal.
2.       Dikarenakan ayat tersebut mengandung kejanggalan dan kontradiksi dengan ayat-ayat lainnya, yang menjelaskan bahwa Nabi tidak akan mengikuti nafsunya, maka kemungkinan cerita tersebut hanyalah cerita bohong. Sebagaimana diungkapkan oleh Al Bazzar, AL Baihaqi, Ibnu Huzaimah, Qodli Iyadl, Ar Razi, dan lain-lain.
Antara Al Qur’an dan hadits, dalam segi keontentikan tentu Al Qur’an lebih diunggulkan. Ketika kita bertemu dengan dalil yang kontradiksi, maka kita akan memilih Al Qur’an yang lebih terjaga keasliannya.
Maulana Muhammad Ali. Dia mengatakan : "Riwayat-riwayat tentang kisah palsu ini datang dari Al-Waqidi, padahal kenyataan yang ada tidak demikian, sesungguhnya setiap pekerjaan Rasulullah SAW bertentangan apa yang telah mereka riwayatkan. Tendensi saya adalah, Al-Waqidi terkenal dengan catatan cerita Isra'iliyat dan khurafat dalam setiap karangannya. ".
Dan menurut para ahli hadits, Al-Waqidi ada orang yang biasa membuat hadits palsu (maudlu'), dan tidak dapat dipercaya (tsiqah) dalam riwayatnya. 


Wallahu A'lam Bis Shawab

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus