JURNAL
AKADEMIK SEJARAH PERADABAN ISLAM
NAMA : SYAIFUL BAHRI
NPM :
21502011011
FAK/PRODI :
Pascasarjana/Magister Pend. Agama Islam
SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA
ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW
Pada pertemuan kemarin dibahas tentang ayat ‘setan’ (ayat
gharaniq):
تلك الغرانيق العلى ، وإن شفاعتهن
لترجى
Artinya:
”Itulah tiga berhala (gharaaniq) pertama. Sesungguhnya syafa’at ketiganya
sangat dinantikan”.
Ketika
kaum Quraisy mendengar perkataan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam tersebut,
mereka langsung bersuka cita. Mereka berkata,”Muhammad telah menyebutkan
tuhan-tuhan kita dengan sebutan yang baik”. Maka beliau shallallaahu
‘alaihi wasallam didatangi oleh Malaikat Jibril yang berkata : “Apa yang
telah engkau perbuat? Mengapa kamu membacakan kepada manusia sesuatu yang tidak
aku bacakan kepadamu (dan juga) bukan berasal dari Allah?”. Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wasallam pun merasa bersedih dan sangat takut. Maka Allah
pun menurunkan ayat: “...... Allahmenghilangkan apa yang dimasukkan syaithan itu, dan
Allah menguatkan ayat-ayat-Nya.... (QS. Al-Hajj :
52) (Fathul-Bayaan fii Maqaashidil-Qur’an IV/244-245 ; Tafsir
ath-Thabari, jilid 17, hal.131-134; Jalaluddin Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur,
jilid 4, hal.194, 366-368; Ibnu Hajar Asqalani, Fath al-Bari fi Syarh
al-Bukhari, jilid 8, hal.233)).
Perihal
keshahihan peristiwa Gharaniq diatas para Ulama’ berbeda pendapat. Ada
yang menerima dan banyak pula yang menolak.
Menurut saya,
cerita itu mengandung kontradiksi dengan ayat – ayat berikut:
لَوْ تَقَوّلَ عَلَيْنَا
بَعْضَ الأقَاوِيلِ * لأخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ * ثُمّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ
الْوَتِينَ
”Seandainya dia
(Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya
benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami
potong urat tali jantungnya” (QS. Al-Haaqqah : 44-46).
وَمَا
يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىَ
”Dan tiadalah
yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya” (QS.
An-Najm : 3).
وَلَوْلاَ
أَن ثَبّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً
”Dan kalau Kami
tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada
mereka” (QS. Al-Israa’ : 74).
Sehingga ada
dua pilihan dalam menjawab cerita Gharaniq:
1.
Jika memang
cerita tersebut benar, niscaya Allah segera mengingatkan dan menasakh ayat gharaniq
tersebut. Berdasar QS Al Hajj : 52, “...... Allahmenghilangkan apa yang dimasukkan syaithan itu, dan
Allah menguatkan ayat-ayat-Nya.... “ Pendapat ini didukung oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
Yang mengatakan bahwa cerita Gharaniq sah, meskipun sanadnya mursal.
2.
Dikarenakan ayat tersebut mengandung
kejanggalan dan kontradiksi dengan ayat-ayat lainnya, yang menjelaskan bahwa
Nabi tidak akan mengikuti nafsunya, maka kemungkinan cerita tersebut hanyalah
cerita bohong. Sebagaimana diungkapkan oleh Al Bazzar, AL Baihaqi, Ibnu
Huzaimah, Qodli Iyadl, Ar Razi, dan lain-lain.
Antara Al Qur’an dan hadits, dalam segi
keontentikan tentu Al Qur’an lebih diunggulkan. Ketika kita bertemu dengan
dalil yang kontradiksi, maka kita akan memilih Al Qur’an yang lebih terjaga
keasliannya.
Maulana Muhammad Ali. Dia mengatakan : "Riwayat-riwayat
tentang kisah palsu ini datang dari Al-Waqidi, padahal kenyataan yang ada tidak
demikian, sesungguhnya setiap pekerjaan Rasulullah SAW bertentangan apa yang
telah mereka riwayatkan. Tendensi saya adalah, Al-Waqidi terkenal dengan
catatan cerita Isra'iliyat dan khurafat dalam setiap karangannya. ".
Dan menurut para ahli hadits, Al-Waqidi ada orang
yang biasa membuat hadits palsu (maudlu'), dan tidak dapat dipercaya (tsiqah)
dalam riwayatnya.
Wallahu A'lam Bis Shawab








0 komentar:
Posting Komentar