JURNAL AKADEMIK SEJARAH PERADABAN ISLAM
NAMA : SYAIFUL BAHRI
NPM :
21502011011
FAK/PRODI :
Pascasarjana/Magister Pend. Agama Islam
AKAL
DAN WAHYU
Masalah akal dan wahyu dalan pemikiran kalam dibicarakan dalam
konteks – manakah diantara keduanya, akal atau wahyu – sebagai sumber
pengetahuan manusia tentang: a)Tuhan, b) Kewajiban berterima kasih pada Tuhan, c)
Apa yang baik dan apa yang buruk, d) Kewajiban menjalankan yang baik dan
menghindari yang buruk.
1.
Aliran
mu’tazilah sebagai penganut pemikiran kalam rasional berpendapat bahwa akal
mempunyai kemampuan mengetahui keempat hal tersebut diatas.
2.
Aliran
Maturidiyah Samarkand yang juga penganut pemikiran kalam rasional, mengatakan
bahwa kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk, akal
mempunyai kemampuan mengetahui ketiga hal lainnya.
3.
Aliran
Maturidiyah Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikir kalam tradisional
berpendapat bahwa dua dari keempat hal tersebut diatas, yakni mengetahui Tuhan
dan mengetahui yang baik dan yang buruk, dapat diketahui melalui akal,
sedangkan dua hal lainnya, yakni kewajiban berterima kasih pada Tuhan serta
kewajiban melaksanakan yang baik serta meninggalkan yang buruk, hanya diketahui
dengan wahyu.
4.
Aliran
Asy’ariyah, sebagai penganut pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa
akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan tiga hal lainnya yakni kewajiban
berterima kasih kepada Tuhan, baik dan buruk, serta kewajiban melaksanakan yang
baik dan menghindari yang jahat, diketahui manusia berdasarkan wahyu.
Menurut saya, akal dan wahyu dapat berjalan secara sinergis. Yakni
sesuatu yang berbicara masalah iman, biarlah wahyu yang menentukan, sedangkan
jika berbicara masalah aplikasinya dapat dipikirkan oleh akal. Sebab menurut
sabda Nabi, kau (orang muslim) lebih tau urusan duniamu.
Akal memiliki keterbatasan, maka jika kita men-Tuhan-kan akal sudah
barang tentu telah melupakan kekurangan tersebut. Akal boleh berpikir bebas
tapi tidak sebebas-bebasnya. Akal dalam berpikir tetap harus dibatasi dengan
koridor-koridor wahyu Ilahi. Sebab menurut saya, jika akal dan wahyu dibandingkan,
maka wahyu lah yang dipilih. Contoh:
orang arab ketika Nabi Muhammad melaksanakan Isra’ Mi’raj banyak yang
menolak, kecuali yang beriman. Hal itu disebabkan secara akal memang tidak
dapat diterima ketika itu. Tapi bagi wahyu adalah mungkin terjadi. Nah, dengan
penelitian di zaman sekarang Isra’ Mi’raj adalah suatu kemungkinan yang dapat
diterima akal, sebagaimana dijelaskan Agus Musthafa. Hal ini dapat disimpulkan,
wahyu mungkin ada beberapa hal yang belum bisa diterima oleh akal, tapi belum
tentu wahyu tersebut salah. Bisa jadi akal yang belum mampu untuk memahaminya, karena memang akal manusia
sangatlah terbatas. Kesempurnaan hanya milik Allah.








0 komentar:
Posting Komentar