Minggu, 06 Maret 2016

AKAL DAN WAHYU

JURNAL AKADEMIK SEJARAH PERADABAN ISLAM
NAMA           : SYAIFUL BAHRI
NPM               : 21502011011
FAK/PRODI : Pascasarjana/Magister Pend. Agama Islam
AKAL DAN WAHYU
Masalah akal dan wahyu dalan pemikiran kalam dibicarakan dalam konteks – manakah diantara keduanya, akal atau wahyu – sebagai sumber pengetahuan manusia tentang: a)Tuhan, b) Kewajiban berterima kasih pada Tuhan, c) Apa yang baik dan apa yang buruk, d) Kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk.
1.      Aliran mu’tazilah sebagai penganut pemikiran kalam rasional berpendapat bahwa akal mempunyai kemampuan mengetahui keempat hal tersebut diatas.
2.      Aliran Maturidiyah Samarkand yang juga penganut pemikiran kalam rasional, mengatakan bahwa kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk, akal mempunyai kemampuan mengetahui ketiga hal lainnya.
3.      Aliran Maturidiyah Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikir kalam tradisional berpendapat bahwa dua dari keempat hal tersebut diatas, yakni mengetahui Tuhan dan mengetahui yang baik dan yang buruk, dapat diketahui melalui akal, sedangkan dua hal lainnya, yakni kewajiban berterima kasih pada Tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik serta meninggalkan yang buruk, hanya diketahui dengan wahyu.
4.      Aliran Asy’ariyah, sebagai penganut pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan tiga hal lainnya yakni kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, baik dan buruk, serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat, diketahui manusia berdasarkan wahyu.
Menurut saya, akal dan wahyu dapat berjalan secara sinergis. Yakni sesuatu yang berbicara masalah iman, biarlah wahyu yang menentukan, sedangkan jika berbicara masalah aplikasinya dapat dipikirkan oleh akal. Sebab menurut sabda Nabi, kau (orang muslim) lebih tau urusan duniamu.

Akal memiliki keterbatasan, maka jika kita men-Tuhan-kan akal sudah barang tentu telah melupakan kekurangan tersebut. Akal boleh berpikir bebas tapi tidak sebebas-bebasnya. Akal dalam berpikir tetap harus dibatasi dengan koridor-koridor wahyu Ilahi. Sebab menurut saya, jika akal dan wahyu dibandingkan, maka wahyu lah yang dipilih. Contoh:  orang arab ketika Nabi Muhammad melaksanakan Isra’ Mi’raj banyak yang menolak, kecuali yang beriman. Hal itu disebabkan secara akal memang tidak dapat diterima ketika itu. Tapi bagi wahyu adalah mungkin terjadi. Nah, dengan penelitian di zaman sekarang Isra’ Mi’raj adalah suatu kemungkinan yang dapat diterima akal, sebagaimana dijelaskan Agus Musthafa. Hal ini dapat disimpulkan, wahyu mungkin ada beberapa hal yang belum bisa diterima oleh akal, tapi belum tentu wahyu tersebut salah. Bisa jadi akal yang belum mampu untuk  memahaminya, karena memang akal manusia sangatlah terbatas. Kesempurnaan hanya milik Allah.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus