ISLAM
PADA MASA KERAJAAN MAJAPAHIT
1.
Pendahuluan
Berbeda dengan wilayah lain, kawasan
Asia Tenggara yang di masa lalu dikenal dengan sebutan Nusantara memiliki pola
dakwah yang khas. Sejak di tanah kelahirannya hingga di belahan Afrika dan
Eropa dakwah Islam dilancarkan lewat pola kekuasaan. Dakwah disebarkan
bersamaan dengan penaklukan wilayah, meskipun prinsip kebebasan berkeyakinan
tetap menjadi dasar.
Sementara di Nusantara, dakwah
disampaikan lewat pola dan relasi yang ‘manusiawi’, yaitu lewat pendekatan
kebudayaan. Cara-cara simpatik perlu dilakukan agar dakwah dan visi Islam di
kawasan ini dapat diterima masyarakat. Pendekatan ini dilakukan untuk
meminimalisir benturan yang bakal terjadi. Apalagi pada kisaran abad 15 wilayah
Nusantara dikenal sebagai wilayah ‘beradab dan berbudaya’ dengan kerajaan
terkuat yang setara dengan kerajaan di Tiongkok, karenanya aksi kekerasan atau
pemaksaan kehendak pasti akan kontra produktif.
Di belahan bumi Nusantara Islam
memilih untuk tidak mengambil jalan berseberangan dengan penguasa. Salah satu
pola kebudayaan penyebaran Islam yang digunakan adalah lewat pendekatan
perkawinan. Kawin-mawin terbukti sanggup mengamankan posisi Islam dan dakwah.
Dengan menjalin kekerabatan antara bangsawan setempat, maka posisi Islam tidak
akan ‘diganggu’. Dakwah pun tidak hanya berkutat di kalangan ‘Sudra’ tapi
menembus kalangan ‘Ksatria’.
Di kalangan rakyat biasa penyebaran
Islam juga tidak pernah ditampilkan lewat cara-cara arogan dan kekerasan. Islam
menyatu dengan kebudayaan dan tradisi masyarakat yang sudah berjalan
berabad-abad. Kearifan lokal diadopsi menjadi kearifan Islam. Nilai-nilai keislaman
disampaikan lewat cerita dan tradisi yang sudah diyakini oleh masyarakat
seperti wayang dan cerita rakyat.
Inilah pilihan dakwah para penyebar Islam yang
semestinya menjadi tuntunan bagi umat Islam generasi setelahnya. Nampaknya
wajah Islam di masa lalu terlihat lebih sejuk dibanding wajah Islam kini.
Semoga kearifan mereka bisa kita pahami.
Aspek damai lainnya dapat dilihat saat Raden Fatah
(Sayyid Hasan) meminta izin Sunan Ampel selalu guru dan mertuanya untuk
menyerang kerajaan Majapahit. Sunan Ampel tidak mengizinkan peperangan itu.
Sebab Sunan Ampel adalah keponakan Raja Majapahit dan Raden Fatah adalah anak
kandung Raja Majapahit. Segala hal perbedaan yang ada perlu diselesaikan secara
kekeluargaan, tidak hanya dengan cara perang dan pertumpahan darah.
Atas uraian diatas, paper ini akan membahas tentang “Islam
di Kerajaan Majapahit”. Islam yang disampaikan dengan jalur damai, bukan dengan
jalur penaklukan berbasis peperangan.
2.
Masuknya Islam di Majapahit
Majapahit adalah sebuah Kerajaan
besar. Sebuah Emperor. Yang wilayahnya membentang dari ujung utara pulau
Sumatera, sampai Papua. Bahkan, Malaka yang sekarang dikenal dengan nama
Malaysia, termasuk wilayah kerajaan Majapahit. Majapahit berdiri pada tahun
1293 Masehi. Didirikan oleh Raden Wijaya yang lantas setelah dikukuhkan sebagai
Raja beliau bergelar Shrii Kertarajasha Jayawardhana. Eksistensi Majapahit
sangat disegani diseluruh dunia. Diwilayah Asia, hanya Majapahit yang ditakuti
oleh Kekaisaran Tiongkok China. Di Asia ini, pada abad XIII, hanya ada dua
Kerajaan besar, Tiongkok dan Majapahit.
Lambang Negara Majapahit
adalah Surya. Benderanya berwarna Merah dan Putih. Melambangkan darah putih
dari ayah dan darah merah dari ibu. Lambang nasionalisme sejati. Lambang
kecintaan pada bhumi pertiwi. Karma Bhumi. Dan pada jamannya, bangsa kita
pernah menjadi Negara adikuasa, superpower, layaknya Amerika dan Inggris
sekarang. Pusat pemerintahan ada di Trowulan, sekarang didaerah Mojokerto, Jawa
Timur. Pelabuhan internasional-nya waktu itu adalah Gresik.
Agama resmi Negara adalah Hindhu
aliran Shiwa dan Buddha. Dua agama besar ini dikukuhkan sebagai agama resmi
Negara. Sehingga kemudian muncul istilah agama Shiva Buddha. Nama Majapahit
sendiri diambil dari nama pohon kesayangan Deva Shiva, Avatara Brahman, yaitu
pohon Bilva atau Vilva. Di Jawa pohon ini terkenal dengan nama pohon Maja, dan
rasanya memang pahit. Maja yang pahit ini adalah pohon suci bagi penganut agama
Shiva, dan nama dari pohon suci ini dijadikan nama kebesaran dari sebuah
Emperor di Jawa. Dalam bahasa sanskerta, Majapahit juga dikenal dengan nama
Vilvatikta (Wilwatikta. Vilva: Pohon Maja, Tikta : Pahit ). Sehingga, selain
Majapahit ( baca : Mojopait) orang Jawa juga mengenal Kerajaan besar ini dengan
nama Wilwatikta (Wilwotikto).
Kebesaran Majapahit mencapai
puncaknya pada jaman pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani
(1328-1350 M). Dan mencapai jaman keemasan pada masa pemerintahan Prabhu Hayam
Wuruk (1350-1389 M) dengan Mahapatih Gajah Mada-nya yang kesohor dipelosok
Nusantara itu. Pada masa itu kemakmuran benar-benar dirasakan seluruh rakyat Nusantara.
Benar-benar jaman yang gilang gemilang!
Islam mendapatkan suatu system politik dan struktur kekuasaan yang
telah lama mapan di pusat keraton Majapahit. Sebenarnya komunitas pedagang
muslim telah mendapat tempat dalam pusat-pusat politik pada abad ke 11 M.
Komunitas muslim itu semakin membesar pada abad ke 14 , namun perkembangannya
tidak semudah bagaimana yang dialami Islam di Samudra Pasai (Wahib Wahab,
2008:47).. Disini Islam berhadapan dengan resistensi politik dan budaya yang
cukup kuat. Kuatnya resistensi itulah diantara yang menjadi faktor penentu
lambatnya proses Islamisasi jawa dibandingkan dengan wilayah lain di nusantara.
Badri Yatim (1998:197) menyebutkan bahwa proses Islamisasi di jawa
sudah berlangsung sejak abad 11 M, meskipun belum meluas, terbukti dengan
ditemukannya batu nisan kubur Fatimah binti maimun di Leran, Gresik, yang
berangka tahun 475 H (1082 M). Penemuan makam tersebut merupakan bukti yang
konkrit bagi kedatangan Islam di jawa. Kalau sebelumnya abad ke 13 bukti-bukti
telah terdapatnya kaum muslimin di jawa masih sangat langka, maka sejak akhir
abad ke 13 hingga abad-abad berikutnya, terutama ketika Majapahit mencapai
puncak kebesarannya, bukti-bukti telah berlangsungnya proses Islamisasi dapat
diketahui lebih banyak, seperti penemuan beberapa puluh nisan kubur di Troloyo,
Trowulan dan Gresik.
Melihat makam-makam muslim yang terdapat di situs-situs Majapahit,
dapat diketahui bahwa Islam sudah hadir di ibu kota Majapahit sejak kerajaan
itu mencapai puncaknya. Meskipun demikian lazim dianggap bahwa Islam di jawa
pada mulanya menyebar selama periode merosotnya kerajaan hindu-budha, Islam
menyebar ke pesisir pulau jawa melalui hubungan perdagangan, kemudian dari
pesisir ini sedikit lambat lalu menyebar ke pedalaman pulau jawa (Badri Yatim,
1998:198). Kecuali itu berita Ma huan tahun 1416 yang menceritakan dengan itu
orang-orang muslim yang bertempat tinggal di Gresik, membuktikan bahwa baik di
pusat kerajaan Majapahit maupun di pesisir, terutama kota-kota pelabuhan telah
terjadi proses Islamisasi dan terbentuknya masyarakat muslim.
Pertumbuhan masyarakat muslim di sekitar Majapahit dan terutama di
beberapa kota pelabuhannya erat pula hubungannya dengan perkembangan pelayaran
dan perdagangan yang di lakukan orang-orang muslim yang telah mempunyai
kekuasaan ekonomi dan politik di Samudra pasai dan Malaka. Pada taraf permulaan
masuknya Islam di pesisir utara jawa terutama di daerah kekuasaan Majapahit
belum dapat dirasakan akibatnya di bidang politik oleh kerajaan Indonesia-hindu
itu. Kedua belah pihak waktu itu mementingkan usaha untuk memperoeh keuntungan
dagang.
Proses Islamisasi hingga mencapai bentuk kekuasaan politik seperti
munculnya demak, dipercepat juga dari kelemahan-kelemahan yang dialami pusat
kerajaan Majapahit sendiri, akibat kelemahan ini dikarenakan pemberontakan
serta perang perebutan kekuasaan di kalangan keluarga kerajaan. Badri Yatim
(1998:196) menyebutkan bahwa perebutan kekuasaan tersebut antara
wikramawhardana dan bhrewirabumi yang berlangsung lebih dari sepuluh tahun,
setelah bhrewirabumi meninggal perebutan kekuasaan di kalangan istana kembali
muncul dan berlarut-larut.Lalu dilanjutkan pada tahun 1468 M Majapahit di
serang oleh girindrawhardana dari Kediri, sejak itu kebesaran Majapahit dapat
dikatakan sudah habis.
Menurut Mundzirin Yusuf (2006:77-78) perkembangan Islam di
Majapahit bersamaan dengan waktunya dengan melemahnya posisi raja Majapahit,
hal ini memberi peluang kepada raja-raja Islam pesisir untuk membangun
pusat-pusat kekuasaan yang independen. Dibawah bimbingan spiritual sunan kudus,
meskipun beliau bukan yang tertua di walisongo, Demak akhirnya berhasil
menggantikan Majapahit sebagai kraton pusat. Hal ini disebabkan Raden Patah
terang-terangan memutuskan ikatannya dengan Majapahit yang sudah tidak berdaya
lagi, dengan bantuan daerah-daerah lainnya di jawa timur yang sudah Islam,
seperti Jepara, Tuban, dan Gresik disamping dapat mendirikan kerajaan Islam,
dia juga dapat merobohkan Majapahit. Kemudian dia memindahkan semua alat
upacara kerajaan dan pusaka-pusaka Majapahit ke Demak, sebagai lambang tetap
berlangsungnya kerajaan kesatuan Majapahit, tetapi dalam bentuk yang baru,
yaitu Islam. Raden Patah mendapat dukungan dari para ulama besar yang
disebabkan beberapa alasan. pertama, Raden Patah sendiri sudah memeluk agama Islam sejak di Palembang, kedua, menjadikan Demak
bernapaskan Islam, yang diharapkan akan memudahkan jalannya Syi’ar agama Islam
di bumi Jawadwipa, yang mayoritas beragama hindubudha. Ketiga, Raden Patah dan para
ulama mendapat kemudahan dari Prabu Brawijaya V dalam mengembangkan agama
Islam, sehingga tidak ada yang berani melawan Raden Patah (Wawan Susetya,
2009:241).
Hal-hal ini menunjukkan bahwa dalam abad ke-14 itu Islam di
Majapahit bukan lagi sesuatu yang baru saja masuk, melainkan sesuatu yang sudah
biasa. Mungkin sebagai agama, Islam masih sendiri, tetapi sebagai unsur
kebudayaan telah diterima oleh masyarakat.
3.
Kondisi Islam di Majapahit
Pada
awalnya kebanyakan masyarakat tidak mengira, bahwa di tengah kotaMajapahit yang
sangat kental dengan agama hindu. Dengan kenyataan bahwa Islam telah tumbuh dan
berkembang dengan subur pada masa kejayaan kerajaan Majapahit. Sehingga makam
Toloyo merupakan suatu bukti bahwa dalam kehidupan beragama Hindu, Budha dan
Islam dapat berlangsung secara harmonis. Semua hal ini dapat diketahui melalui
adanya makam Troloyo yang berada di tengah-tengah sebuah kerajaan besar yang
kental dengan agama Hindunya (Inajati Andrisijanti, 2012:168).
Dalam
kondisi yang demikian Islam telah diberikan suatu kelonggaran untuk melakukan
syi’ar kepada masyarakat Majapahit, antara lain yang melalui media makam, yakni
dengan pesan-pesan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an, yang mengingatkan pada manusia
bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati, suatu kematian yang kebanyakan
orang menakutinya pasti akan ditemuinya. Terlepas dari boleh atau tidaknya
dalam ajaran Islam yang pasti telah terbukti bahwa kutipan ayatayat Al-Qur’an
banyak dijumpai dalam beberapa inskripsi berhuruf Arab, yaitu pada nisan di
makam Troloyo (Inajati Andrisijanti, 2012:169).
Islam
pada masa kerajaan Majapahit telah mendapatkan pengakuan dari pemerintahan yang
berkuasa saat itu dan masyarakat pada umumnya. Padahal mayoritas agama yang
dianut pada kerajaan Majapahit adalah agama Hindu dan Budha. Ini Menunjukkan
syiar islam dilakukan dengan damai. Tidaklah mungkin Maka Troloyo masih lestari
dan terjaga, jika pada saat Islam di Kerajaan Majapahit terjadi konflik dengan
pengusasa maupun penduduk setempat. Yang unik adalah Islam Nusantara yang sudah
tercermin pada waktu itu. Islam yang bukan ke Arab-Araban, tetapi Islam
yang sudah melekat dengan budaya jawa.
4.
Saluran-Saluran
Islamisasi
Kedatangan
Islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya, dilakukan
secara damai. Apabila situasi politik di suatu kerajaan mengalami kekacauan dan
kelemahan yang di sebabkan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana,
maka Islam di jadikan alat politik bagi golongan bangsawan, ataupun oleh
golongan pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka berhubungan dengan
pedagang-pedagang muslim yang posisi ekonominya kuat, karena mereka menguasai
pelayaran dan perdagangan, sehingga apabila kerajaan Islam sudah berdiri,
penguasanya melancarkan perang terhadap kerajaan non Islam. Hal itu bukanlah
karena persoalan agama, tetapi karena dorongan politis untuk menguasai
kerajan-kerajaan di sekitarnya.
Dari
penjelasan diatas maka dapat dijelaskan bahwa proses Islamisasi di daerah
Majapahit adalah melalui saluran-saluran Islamisasi sebagai berikut:
a.
Perdagangan
Diantara salah satu saluran
Islamisasi di Jawa, khusunya di Majapahit pada taraf permulaan adalah
perdagangan dan aliansi politik antara para pedagang dan raja, yang memainkan
peranan didalamnya (Martin, 1995:187). Perdagangan juga mempergunkan sarana
pelayaran. Yakni perdagangan yang dilakukan di Majapahit melalui sarana
pelayaran dengan menggunakan bengawan Solo dan sungai brantas yang bermuara di
laut jawa.
Pada masa Majapahit kedua sungai
tersebut semakin kuat, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa tempat di
sepanjang sungai tersebut yang menjadi pelabuhan pendaratan maupun pengangkutan
khusunya barang-barang yang diperdagangkan. Perdagangan Majapahit semakin berkembang
sejak berkuasanya dinasti song di China yang berpolitik terbuka bagi
perdagangan internasional.Betapa padatnya lalu lintas sungai di masa Majapahit
dapat diketahui dari sejumlah tempat penyebrangan yang disebut dalam prasasti
Trowulan 1280 Saka (1358 M), dan prasasti lainnya disebutkan bahwa ada 44
tempat, tetapi hanya 3 tempat yang dianggap penting karena disebut sebagai
tempat pemunggahan yakni tempat tersebut ada di tepi sungai brantas di daerah
Mojokerto mulai dari hilir yang dinamakan Curabhaya, Trung, dan
Canggu.Curabhaya yang sekarang ini menjadi Trosobo dan Trung yang sekarang
bernama Trung kulon yang bertempat antara Mojokerto dan Surabaya, sedangkan
Canggu sekarang terletak di Kecamatan Gedeg, Mojokerto (Sjamsudduha,
1998:35-36)
Sungai-sungai tersebut
menghubungkan kota dan tempat perdagangan yang terletak di sepanjang perairan
tersebut, baik yang ada di daerah pedalaman maupun yang berada di daerah dekat
pantai. Beberapa buah prasasti yang berasal dari zaman Majapahit, bahkan yang
berasal dari zaman sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa lalu lintas melalui
sungai ini telah menduduki tempat yang sangat penting dalam kehidupan sosial
ekonomi.
b.
Perkawinan
Pandangan dari sudut ekonomi, para
pedagang muslim memiliki status social yang lebih baik dari pada kebanyakan
pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama putri-putri bangsawan tertarik
untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum mereka melakukan perkawinan
mereka di Islamkan terlebih dahulu, setelah mereka mempunyai keturunan, maka
lingkungan mereka semakin luas. Akhirnya timbul kampungkampung, daerah-daerah,
dan kerajaan-kerajaan Islam (Badri, 1998: 202).
Saluran Islamisasi perkawinan
dilakukanantara pedagang muslim, mubaligh dengan anak bangsawan kerajaan
Majapahit. Hal ini akan mempercepat terbentuknya inti sosial, yaitu keluarga
muslim dengan masyarakat muslim. Dengan perkawinan itu secara tidak langsung
orang muslim tersebut status sosialnya dipertinggi dengan sifat kharisma
kebangsawanan. Lebih-lebih apabila pedagang besar kawin dengan putri raja, maka
keturunannya akan menjadi pejabat birokrasi dalam kerajaan, putra mahkota
kerajaan, syahbandar, qadi.
Selain itu saluran Islamisasi
melalui perkawinan itu lebih menguntungkan lagi apabila terjadi perkawinan
antara ulama atau golongan lain dengan anak bangsawan atau anak raja atau anak
adipati. Lebih menguntungkan karena status social ekonomi, terutama politik
raja-raja, adipati-adipati, dan bangsawan-bangsawan pada waktu itu turut
mempercepat proses Islamisasi.
Seperti dalam cerita babad hikayat
dan tradisi, sering didapati data mengenai perkawinan seorang pedagang atau
golongan lainnya dengan anak bangsawan, dalam babad tanah jawa diceritakan
tentang perkawinan antara putri Campa dengan seorang raja Majapahit yaitu
Brawijaya, sedangkan ayah putri Campa adalah seorang misionaris muslim yang
kawin dengan ibunya anak raja Campa yang semula bukan penganut Islam.
Perkawinan ulama yaitu maulana
ishak datang di Blambangan dan melakukan perkawinan dengan putri raja
Blambangan yang kemudian melahirkan Sunan Giri. Dalam babad tanah jawa juga
diceritakan perkawinan antara Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Gede
Manila, yakni putri dari Temenggung Wilatikta.
Dalam babad Cirebon diceritakan
perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati, sedangkan dalam babad
Tuban menceritakan perkawinan antara Raden Ayu Teja, yaitu putri Aria Dikara
yang menjadi Adipati Tuban dengan syeih Ngabdurahman seorang pedagang Arab
muslim yang kemudianmempunyai anak laki-laki dengan gelar Arab bernama Syeih
Jali atau Jaleludin. Dari semua cerita dari babad Jawa, Islamisasi melalui
perkawinan telah banyak dilakukan dari banyak kalangan bangsawan dengan
pedagang dan ulama.
c.
Tasawuf
Selain Islamisasi melalui
perdagangan dan perkawinan, saluran Islamisasi melalui tasawuf juga merupakan
salah satu saluran penting dalam proses Islamisasi. Tasawuf merupakan salah
satu aspek ajaran Islam yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam kehidupan
keagamaan masyarakat Indonesia, khusunya jawa yang menjadi daerah kekuasaan
Majapahit.
Bahkan hingga sekarang pengaruh
ajaran tasawuf ini dapat ditemukan bukti-buktinya secara jelas pada
tulisan-tulisan antara abad ke 13 M dan abad ke 18 M. Tasawuf termasuk kategori
yang berfungsi dan membentuk kehidupan sosial bangsa Indonesia yang
meninggalkan bukti-bukti jelas pada tulisan-tulisan antara abad ke 13 dan abad
ke 18. Hal itu bertalian langsung dengan penyebaran Islam, dengan memegang
peranan suatu bagian yang penting dalam organisasi masyarakat kota-kota
pelabuhan.
Bersamaan dengan pedagang, datang
pula para ulama, da’I, dan sufi pengembara. Para ulama atau sufi tersebut ada
yang kemudian diangkat menjadi penasihat dan juga menjadi pejabat agama di
kerajaan, sebagai contoh di Aceh ada syeikh Hamzah fansuri, Syamsuddin Sumatrani,
Nuruddin ar raniri, Abd. Rauf singkel.Demikaian juga di kerajaan jawa khususnya
Majapahit juga mempunyai penasihat yang bergelar wali, yang terkenal dengan
walisongo (Masrifah, 2012: 11). Seperti halnya saat kerajaan Majapahit
mengalami kekacauan semua adipati dan para temenggung rapat bersama untuk
mencari seorang ulama yang bisa menentramkan wilayah Majapahit.
Maka pada zaman kerajaan dahulu,
orang hindu sudah membuat cara apabila wilayahnya sedang mengalami kekacauan
dan tidak bisa lagi mengatasi, barulah mereka membutuhkan seorang ulama dan
dalam keputusan rapat semua anggota kerajaan Majapahit tersebut diputuskan dan
menyetujui Sayyid Ali Rahmatulloh dari Campa munghtai, beliau putra dari Sayyid
Ibrahim Asmarakhandi, adalah satu-satunya ulama yang akan diminta untuk
menentramkan wilayah Majapahit (Nasiruddin, 2004: 20).
d.
Pendidikan
Proses pengajaran Islam kemungkinan
besar juga banyak di lakukan lewat masjid, jika sebuah pendidikan atau
pengajaran di lakukan di masjid, maka bentuk dari pengajarannya biasanya
menggunakan bentuk halaqah-halaqah. Halaqah ini dengan bentuk lingkaran, atau
mirip orang berdiskusi dengan guru di tengah-tengah yang sudah di lakukan di
masa-masa awal perkembangan Islam masa Nabi Muhammad SAW dan para kholifah. Dan
selanjutnya pendidikan Islam di masa Majapahit dilakukan pula lewat rumah-rumah
ulama, karena jika kita melihat sistem pendidikan awal Islam juga banyak di
lakukan di rumah-rumah ulama sebelum terbentuknya masjid.
Selanjutnya, setelah berkembang dan
ada sarana pesantren Islamisasi yang dilakukan melalui pendidikan ini di
terapkan baik pendidikan pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh
guru-guru agama, kyai-kyai, dan ulamaulama. Di pesantren atau pondok itu calon
ulama, guru agama dan kyai mendapat pendidikan agama, setelah keluar dari
pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwah ke tempat
tertentu untuk mengajarkan agama Islam. Mislanya dapat di contohkan pesantren
yang telah didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri
di Giri Gresik, keluaran pesantren Giri ini banyak yang di undang ke Maluku
untuk mengajarkan agama Islam.
Dengan demikian bisa dipastikan
bahwa pendidikan masa Majapahit tidak jauh dari logika penyebaran masa awal
Islam, rumah ulama dan masjid sebagai lembaga pendidikan pada tingkat
sederhana, yang menjadi sarana efektif pendidikan Islam ke pada masyarakat jawa
sebelum terbentuknya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang lebih
sempurna.
e.
Kesenian
Saluran Islamisasi melalui kesenian
yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang, dikatakan oleh Sunan Kalijaga
adalah tokoh yang sangat mahir dalam mementaskan wayang.Beliau tidak pernah
meminta upah dalam pertunjukannya, tetapi beliau meminta para penonton untuk
mengikutinya dalam mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang
masih di petik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita
wayang tersebut di sisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam.
Kesenian-kesenian lain juga dapat di jadikan saluran Islamisasi, seperti sastra
(hikayat dan babad), seni bangun, dan juga seni ukir (Badri, 1996: 203).
Sebagaimana yang telah dijelaskan
di atas, bahwa Islamisasi di bumi nusantara (Majapahit) adalah melalui
pendekatan budaya setempat, yang salah satunya adalah wayang. Maka dalam hal
ini wayang di pergunakan sebagai media menyebarkan dan menanamkan ajaran-ajaran
Islam di nusantara. Agar dapat memahami lebih dalam tentang wayang yang
akhirnya dijadikan sarana menarik minat masyarakat Majapahit, disebabkan karena
pertunjukan wayang di dalamnya terkandung tentang bentuk hubungan, tujuan,
ruang lingkup, serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam ceritanya,
selain itu wayang sering di sebut sebagai puncak seni tradisional klasik jawa,
bahkan mendapat gelar Adilubung.
Dalam masyarakat jawa, kisah-kisah
dalam pertunjukan wayang tidak hanya sekedar hiburan saja, melainkan dianggap
sebagai tuntunan, dianggap juga sebagai Ngelmu
(Bahasa jawa), atau falsafah kehidupan yang bisa memberi katarsis
bagi penontonnya. Bagi orang jawa kala itu menonton wayang tidak sekedar
menonton kesenian, melainkan untuk meneguhkan kembali jiwa mereka, menggali
kembali falsafah nilai, sikap hidup, atau dengan kata lain menonton wayang
merupakan aktivitas latihan memelihara keyakinan dan nilai-nilai kearifan mereka.
Rupanya para sunan (wali) penyebar
agama Islam tempo dulu menggunakan sebuah pendekatan, yang di sebut pendkatan
substansial dari pertunjukan wayang sebagai sarana dakwah dalam menyebarkan
agama Islam di tanah jawa. Karena pada zaman hindu budha, wayang sudah di
gemari oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Oleh sebab itu keahlian dan
kepiawaian para wali memanfaatkan seni pertunjukan wayang dengan memasukkan
ajaran Islam ke dalam konsep cerita, serta namanama wayang itu sendiri.
Dari
semua proses islamisasi yang diterapkan di bumi Majapahit, setidaknya dapat
diambil kesimpulan bahwa islam dapat diterima dengan baik hanya dengan jalur
damai. Bukan dengan jalur kekerasan seperti yang selama ini sedang booming.
Baik mengatasnamakan jihad fi sabilillah maupun mendirikan khilafah. Islam
justru akan tercemar dengan pemahaman yang radikal tersebut. Islam yang
didakwahkan pada negeri Majapahit yang mayoritas Hindu Budha ini dapat menjadi
panutan dalam mensyiarkan agama Islam. Syiar dengan menggunakan budaya lokal,
bahkan mengkawinkan islam dengan kearifan lokal, terlepas dari pandangan islam
puritan. Islam dapat menyesuaikan dengan budaya Arab, karena memang turun di
bumi Arab. Yakni dengan meneruskan budaya yang baik dan mengganti budaya yang
buruk. Demikian juga ketika islam berada di bumi Majapahit, islam dapat
disesuaikan dengan budaya lokal tanpa mengurangi kesucian agama islam. Islam
bukanlah agama orang Arab saja, melainkan Islam adalah Agama seluruh umat
manusia di seluruh dunia.
5.
Daftar Pustaka
Andrisijanti,
Inajati. 2012. Majapahit Batas Kota& Jejak-Jejak Peradaban. Yogyakarta:
BalaiArkeologi Yogyakarta.
Bruinessen,
Martin Van. 1995. Kitab Kuning
Pesantren Dan Tarekat. Bandung: Mizan
Nasiruddin,
Cholil. 2004. Sejarah Sayyid Jumadil Kubro. Jombang: SEMMA
Poesponegoro,
Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia
III. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Sjamsudduha.
1998. Sejarah Sunan Derajat Dalam Jaringan Masuknya Islam Di Nusantra. Surabaya:
Tim Peneliti dan Penyusun Buku Sejarah Sunan Drajat.
Soekmono.
1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius
Sunanto,
Musyrifah. 2012. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Susetyo,
Wawan. 2009. Senyum Manis Wali Sanga. Yogyakarta: Diva Press
Whab,
Wahib. 2008. Syeikh Jumadil Kubro Punjer Walisongo. Mojokerto:
Pemerintah Kabupaten Mojokerto
Yatim,
Badri. 1998. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Yusuf,
Mundzirin. 2006. Sejarah Peradaban Islam Di Indonesia. Yogyakarta:
Pustaka








Apa bukti hindu dan budha agama mayoritas majapahit ? Majam trowyla. dan surya majapahit yg beaimbilkan islam byktibkuat majapahit adalah kerjaan islam bykan hi du
BalasHapus